Senin, 21 Oktober 2019

Published Oktober 21, 2019 by with 0 comment

Fungsi Musik Tradisional


Kekhasan musik tradisi dan musik tradisional berada pada fungsinya. Fungsi musik ini menunjukkan kedudukan dan perannya dalam tradisi maupun kehidupan masyarakat seharihari. Bagi masyarakat Indonesia secara umum ada enam fungsi musik tradisional: 
(a) sarana upacara adat (ritual); 
(b) pengiring tarian; 
(c) sarana hiburan; 
(d) sarana komunikasi; 
(e) sarana pengungkapan diri; 
(f) sarana ekonomi 
(Asep Setiawan, posted 10 November 2015).

1. Sarana upacara adat budaya (ritual)
Upacara-upacara adat di Indonesia selalu melibatkan musik tradisi. Apabila kedudukan musik merupakan bagian pokok atau bahkan inti upacara adat maka disebut musik tradisi. Oleh karenanya kehadiran musik tradisi dalam upacara adat ini bersifat mutlak. Contoh, hingga sekarang mengumandangkan gendhing-gendhing kuna dengan perangkat gamelan Kyai Guntur Madu pada perayaan Sekaten di Kasultanan Yogyakarta merupakan keharusan bersifat mutlak. Kehadirannya tidak tergantikan.

Jika kedudukan musik dalam upacara adat bukan bagian pokok atau inti upacara, maka kehadirannya bersifat tidak mutlak, bisa digantikan. Namun demikian musik ini tidak kehilangan martabat sebagai musik tradisional. Oleh karena itu tampilnya dalam upacara adat tetap mengikuti ketentuan tradisi. Misalnya, peran musik tradisional pengiring upacara perarakan pengantin adat Jawa Tengah. Bila perarakan tersebut tidak diiringi musik tradisi sama sekali, keabsahannya tidak terganggu. Hanya saja upacara kurang semarak. Penggantian musik tradisional pada upacara adat ini tetap harus mengikuti kelaziman yang berlaku.

Upacara-upacara adat Nusantara biasanya berkaitan erat dengan perayaan tonggaktonggak pokok kehidupan manusia, seperti, kelahiran, perkawinan, dan kematian beserta rinciannya. Upacara-upacara adat yang lain terkait perayaan keagamaan, kenegaraan dan perawatan lingkungan hidup alam maupun sosial beserta keterpaduannya. Contoh, upacara adat panenan atau memulai tanam padi di tengah masyarakat Kanekes. Musik tradisi yang digunakan adalah angklung buhun.

Pada beberapa daerah, bunyi yang dihasilkan oleh alat musik tradisi tertentu dipercaya mempunyai kekuatan magis. Oleh sebab itu, alat musik seperti itu digunakan sebagai sarana kegiatan adat istiadat masyarakat. Misalnya, karinding di Jawa Barat digunakan dalam upacara mengendalikan hama padi. Musik dog-dog ting, digunakan masyarakat Jawa untuk mencari orang hilang karena disembunyikan mahluk gaib.  

2. Pengiring tarian
Musik tradisional juga digunakan masyarakat mengiringi tarian-tarian khas daerahnya. Kebanyakan tarian khas daerah di Indonesia hanya cocok jika diiringi musik daerahnya sendiri. Antara tarian dan musik pengiringnya memiliki keselarasan yang khas. Iringan musik yang sesuai menjadikan tarian tampil lebih hidup seperti citarasa yang dimaksudkan.

Misalnya, tarian menjadi tampil gagah, lembut, jenaka, mistis, dan sebagainya. Tarian tradisi akan sempurna jika diiringi musik tradisi yang tak tergantikan. Tari tradisi datun julut untuk mengawali upacara tradisi mecaq undat diiringi musik tradisional Dayak Kenyah di Kalimantan Timur. Tari-tarian dalam upacara naik dango diiringi musik khas Dayak Kayanatn Kalimantan Barat. Meskipun keduanya sama-sama pesta sesudah panen masyarakat Dayak, tetapi musik pengirinya tidak benar apabila dipertukarkan.

3. Sarana Hiburan
Seperti halnya musik moderen, musik tradisional kedaerahan juga digunakan sebagai sarana hiburan. Hiburan yang bersifat individu akan menyegarkan kembali keletihan mental orang yang bersangkutan. Orang bisa duduk sendirian menghibur diri dengan bermain seruling atau sasando tunggal (solo) di bawah pohon rindang. Ia bebas menyanyikan lagulagu kesukaannya dengan alat musik yang dikuasai. Hiburan yang bersifat melibatkan orang banyak memberikan nilai tambah berupa sarana rekatan hubungan sosial antarwarga masyarakat. 

Dahulu gadis-gadis daerah Aceh mengisi waktu senggang sesudah bekerja di sawah dengan bermain canang trieng atau celempong. Dari Madura tercipta alat musik saronen, yang kemudian sekaligus menjadi nama seni pertunjukan saronen. Orang-orang bisa membentuk kelompok musik tradisional satu jenis alat musik atau macam-macam alat musik kegemarannya secara bersama (ansambel).

4. Sarana Komunikasi
Hampir di semua daerah di Indonesia masyarakat menggunakan bunyi-bunyian sebagai tanda pemberitahuan. Kentongan, bedhug, lonceng, dan sebagainya merupakan alat-alat musik tradisional yang berguna sebagai sarana komunikasi. Dalam kesatuan militer biasa digunakan terompet. Kode informasi diwujudkan dalam pola bunyi atau nada yang disepakati. Kentongan yang dibunyikan dengan pola bunyi dara muluk di kalangan masyarakat Jawa merupakan pertanda bahwa keadaan lingkungan telah aman dari bahaya.

Dari berbagai macam alat dan pola bunyi, secara umum dimaksudkan untuk menyebarkan pemberitahuan akan adanya suatu peristiwa (kematian, pencurian, dsb.), keadaan (darurat, siaga, aman, dll.), penanda waktu (mulai/akhir kerja, menjelang ibadah, dsb.), atau kegiatan bersama (ibadah, gotong-royong, berkumpul, dsb.). Adalah lazim bahwa alat tertentu merupakan alat penanda khas lembaga tertentu: Bedhug khas masjid, lonceng khas gereja, kentongan khas pos ronda atau warga masyarakat, terompet khas tangsi militer.

Musik tradisional dalam arti sepenuhnya, bisa sungguhsungguh menjadi sarana komunikasi. Hal ini terjadi apabila musik tradisional dijadikan wahana (media) menyampaikan pesan kepada khalayak penikmatnya. Misalnya, penyebaran-luasan informasi, penerangan, mencari dukungan, dan lain-lain. Sarana penyampai pesan ini bisa melalui isi syair dan semangat lagunya. Bisa pula sematamata pementasan musik tradisional sebagai alat pengumpul massa.

5. Sarana pengungkapan diri
Mencipta atau memainkan musik bagi para seniman maupun orang biasa merupakan sarana dan wahana mengungkapkan diri. Apa saja yang diungkapkan, tidak lain perasaan cinta, suka-duka; pemikiran, gagasan, impian, harapan, cita-cita tentang berbagai pusat kesadaran. Lingkaran-lingkaran kesadaran meluas mulai diri sendiri, keluarga, orang lain, lingkungan, negara, dunia dan Tuhan.

Puncak pengungkapan diri adalah mewujudkan pemenuhan kemampuan diri. Pemenuhan kemampuan diri melalui musik tradisi atau musik tradisional bercirikan kepiawaian, kemahiran dan keahlian baik sebagai pemain maupun pencipta. Penentunya adalah kecintaan, kesungguhan dan ketekukan. Saat seseorang telah memasuki penyatuan diri maka akan menjadi maestro atau empu. Akhir-akhir ini sebutan keunggulan yang lazim adalah profesional. Profesional berarti sempurna, baik yang bersifat komersial, bayaran, matapencaharian ataupun murni berseni tradisi.

6. Sarana ekonomi
Tidak bisa dinafi kan, musik tradisional bisa menghasilkan pendapatan sambil tetap menikmati kepuasan batin. Bagi senimannya pendapatan bisa berupa wujud ucapan terima kasih (honorarium) atas jasa main musiknya. Pendapatan berupa bayaran atau gaji apabila bersifat pekerjaan pokok (profesi) ataupun sambilan (amatir). Pendapatan ekonomis bisa bersifat komersial maupun layanan bakti.

Musik tradisional juga bisa menjadi lahan wirausaha, baik bagi senimannya, pebisnis maupun pemodal. Bisnis musik tradisional bisa berlangsung apabila berupa industri. Industri jasa, misalnya, penyelenggara pentas (event organizer). Industri produk berupa rekaman, pembuatan alat-alat musiknya, kelengkapan bermain musiknya, dan sebagainya. Adapun sisi perdagangan bisa berupa penjualan produk-produk musik beserta produk ikutannya.

APRESIASI 

  • pilih "APRESIASI" untuk mengisi absensi 
  • apresiasi yang tidak sesuai dengan perintah tidak dihitung sebagai absensi
Lanjut Baca
      edit
Published Oktober 21, 2019 by with 0 comment

Indahnya Musik Desaku


Indonesia kaya dengan berbagai macam musik beserta alat-alat musiknya. Hampir setiap daerah atau suku bangsa memiliki musik tradisional yang khas. Misalnya, Bali memiliki gong luang. Tanah Siang Kalimantan Timur memiliki karang dodou. Begitu pula daerah-daerah lainnya. Masing-masing musik tradisional mencerminkan suasana kedaerahannya. Aneka ragam musik tradisional bangsa Indonesia ini lazim disebut musik etnik Nusantara. Setiap musik tradisional khas daerah memiliki ciri keindahan masing-masing. Musik gambang kromong dari lingkungan budaya Betawi berciri jenaka, meriah gembira. Gendang-gendang tifa dari Papua menambah gairah derap tari-tarian gagah perkasa. Keindahan timbul dari bunyi dan nada alat-alat musiknya sesuai lagu yang diselaraskan dengan suasana pementasannya.

Meskipun terbilang tradisional, musik etnik tidak hanya hidup di pedesaan. Musik etnik berkembang pula di perkotaan. Contoh, di Semarang, Solo ataupun Yogyakarta terdapat kelompok-kelompok belajar karawitan. Hal serupa terjadi musik moderen terdengar melantun di desa-desa. Begitulah musik tradisional dan musik moderen berdampingan baik di kota maupun di desa menghadirkan keindahan masing-masing. Tidak dipungkiri musik tradisional kental dengan tradisi masyarakat desa. Bahkan di daerah atau lingkungan budaya tertentu musik tradisional benar-benar menghiasi kehidupan

masyarakat sehari-hari. Di Kampung Naga Jawa Barat, misalnya, siang dan malam musik tradisional menyelaraskan jiwa manusia dengan alam pedesaan tempat hidupnya. Keindahan musik tradisional mengalun dari kedalaman jiwa. Getaran luhur martabat jatidiri manusia menggaung lembut, membubung ke angkasa, membahana ke sudut-sudut semesta raya. Betapa indahnya musik desaku.

Pengertian Musik Tradisional
Dalam kehidupan sehari-hari sering terdengar orang menyebut istilah musik tradisi dan musik tradisional. Bahkan kadang-kadang sebutan-sebutan itu dipertukarkan satu sama lain. Ada baiknya diketahui pengertian masing-masing agar tidak ragu-ragu pada saat akan menggunakannya.

Ada sejumlah pengertian sesuai sudut pandang perumusannya. Secara etimologis atau asalusul kata, istilah musik tradisi berasal dari kata mousikè dan traditio. Mousikè diambil dari nama Yunani Mousikos yaitu dewa keindahan, seni dan ilmu pengetahuan. Seni asuhan Mousa ini berupa seni musik dan puisi. Selanjutnya bangsa Romawi menggunakan kata ars musica untuk menyebut seni puisi yang diiringi alat-alat musik (ars = seni). Secara lebih khusus, musik bisa dikatakan sebagai seni suara atau bunyi nada dengan suatu irama, melodi dan keselarasan tertentu yang dapat menggambarkan perasaan penciptanya. (Orsida, 2017)

Sedangkan traditio berasal dari bahasa Latin tradêrê yang artinya jatuh ke bawah atau mewariskan. Kata traditio digunakan untuk menyebut kebiasaan sehari-sehari masyarakat yang terwariskan secara turun-temurun. Adapun kata tradisional menurut Salim berarti sifat atau sikap yang berpegang teguh pada kebiasaan turun-temurun. (Salim & Salim, 1991)

Musik tradisional secara umum dimengerti sebagai seni budaya yang sejak lama turun temurun telah hidup dan berkembang pada daerah tertentu (Tumbijo, 1977). 

Musik tradisional juga tidak berarti kolot, kuno atau ketinggalan zaman. Tetapi musik yang bersifat khas dan mencerminkan kebudayaan suatu etnis atau masyarakat tertentu (Purba, 2007). 

Secara lebih hakiki, musik tradisional merupakan wujud nilai budaya sesuai tradisi masyarakat pendukungnya (Sedyawati, 1992). 

Musik tradisional mengangkat tema-tema kehidupan dan budaya setempat. Adapun musik tradisi adalah musik yang lahir dan berkembang di suatu daerah tertentu dan diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya. Adapun ciri-cirinya: 
  1. ide musik baik vokal maupun cara memainkan peralatannya ditularkan dan diwariskan secara langsung tidak tertulis yang kemudian dihafalkan; 
  2. jika dengan vokal, syair lagunya harus berbahasa daerah; 
  3. alunan melodi dan iramanya juga menunjukkan ciri khas kedaerahan; dan 
  4. menggunakan alat-alat musik khas daerah. Contoh, lagu dari daerah Jawa Tengah syairnya harus berbahasa Jawa dan melodi menggunakan tangga nada pentatonik. Dengan sendirinya alat musiknya menggunakan gamelan. (Widagda, posted 20 Juli 2010).
Acap kali ada pertukaran istilah antara musik tradisional dan musik tradisi. Secara umum penukaran istilah ini bisa diterima sejauh tidak mengaburkan makna yang dimaksudkan. Sebaliknya, apabila mengaburkan makna yang dimaksud, penukaran istilah sebaiknya dihindarkan. Contoh, dalam musik Jawa ada gendhing-gendhing tertentu yang oleh tradisi mendapat perlakuan khusus secara ketat, sementara gendhing-gendhing yang lain diperlakukan secara lebih longgar. Keduanya sama-sama bersifat tradisional. Namun hanya gendhing-gendhing yang oleh tradisi mendapat perlakuan khusus secara ketat itulah yang benar-benar bisa dianggap musik tradisi.


APRESIASI 

  • pilih "APRESIASI" untuk mengisi absensi 
  • apresiasi yang tidak sesuai dengan perintah tidak dihitung sebagai absensi
Lanjut Baca
      edit

Senin, 26 Agustus 2019

Published Agustus 26, 2019 by with 0 comment

Kritik Seni Pengertian, Fungsi, Jenis, Bentuk

A. Pengertian Kritik Seni

Kritik seni adalah kegiatan menanggapi karya seni untuk menunjukkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni. Salah satu keterangan kelebihan dan kekurangan ini untuk menilai kualitas dari sebuah karya.
Tanggapan dan penilaian yang disampaikan oleh seorang kritikus ternama dapat mempengaruhi kualitas sebuah karya bahkan bisa berpengaruh pada harga jual karya tersebut.
Kritikus Seni
Kritikus merupakan orang yang melakukan kritik terhadap karya seni dan budaya orang lain atau dirinya sendiri.
Landasan yang harus ada sebelum menyampaikan kritikan:
  1. Pengalaman yang cukup dalam materi kritik;
  2. Keilmuan dan pengetahuan yang relevan;
  3. Menguasai penerapan metode kritik yang tepat;
  4. Menguasai media kritik (kebahasaan yang efektif dan komunikatif).

B. Fungsi Kritik

Fungsi utama dari kritik seni adalah menjembatani persepsi dan apresiasi karya seni rupa antara seniman, karya, dan penikmat seni.
Kritik dengan gaya bahasa tulisan maupun lisan berusaha melakukan analisa, mengupas, dan diharapkan bisa memudahkan seniman dan penikmat seni berkomunikasi lewat karya seni.

C. Jenis Kritik Seni

Ada 4 jenis kritik seni dimana setiap tipe nya mempunyai ciri khusus masing-masing.
1. Kritik Jurnalistik
Tipe kritik ini ditulis untuk para pembaca surat kabar dan majalah atau disampaikan secara terbuka. Tujuannya memberikan informasi mengenai berbagai peristiwa dalam dunia kesenian.
Isi dari kritik jurnalistik berupa ulasan ringkasan yang jelas tentang suatu pameran, pementasan, konser, atau jenis pertunjukan lain.
2. Kritik Pendagogik
Tipe kritik ini diterapkan dalam kegiatan proses belajar mengajar di lembaga pendidikan kesenian. Jenis kritik ini dikembangkan oleh guru kesenian.
Tujuannya terutama mengembangkan bakta dan potensi artistik-estetik peserta didik agar mempunyai kemampuan mengenali bakat dan potensinya.
3. Kritik Ilmiah
Kritik ilmiah atau akademi ini melakukan pengkajian nilai seni secara luas, mendalam, dan sistematis, baik dalam menganalisis maupun mengkaji banding kesejarahan critical judgment.
Penilaian kritik ilmiah tidak bersifat mutlak. Jenis kritik ini bersifat terbuka dan siap dikoreksi oleh siapa saja demi penyempurnaan dan mencari nilai karya seni yang sebenarnya.
4. Kritik Populer
Jenis kritik ini berkembang di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Tipe kritik populer adalah suatu gejala umum dan kebanyakan dihasilkan oleh para kritikus yang tidak ahli, terutama dilihat dari aspek profesionalisme kritisme seni.
baca lengkap di:
buka modul:

Lanjut Baca
      edit
Published Agustus 26, 2019 by with 0 comment

Pengertian, Motif dan Pola Ragam Hias

Ragam Hias

Ragam hias atau ornamen merupakan suatu bentuk karya seni rupa yang telah berkembang sejak zaman prasejarah. Indonesia sendiri sebagai negara kepulauan mempunyai begitu banyak ragam hias, dari segi motif ataupun jenis dan polanya. Pengertian ragam hias di sini juga akan dibahas.

Ragam hias yang ada di Indonesia itu sendiri dipengaruhi oleh begitu banyak faktor, seperti lingkungan alam, flora dan fauna, hingga budaya masing-masing daerah yang begitu kaya. Keinginan untuk menghias juga menjadi salah satu bentuk naluri atau insting dari manusia itu sendiri.

Tidak hanya itu saja, pembuatan ragam hias juga didasarkan dari kebutuhan masyarakat, baik itu yang memiliki sifat praktis ataupun yang terkait dengan kepercayaan atau dengan masalah agama. Bahkan, ada juga ragam hias yang memiliki makna simbolis, dikarenakan terkandung nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat pendukungnya.
Menggambar ragam hias juga bisa dengan mudah dilakukan menggunakan  stilasi (penggayaan) dengan cara menyederhanakan bentuk objek/obyek menjadi sumbernya dengan segala bentuk pertimbangan keindahan. Tidak hanya itu saja, gambar hias juga harus bisa disesuaikan dengan atau sesuai fungsinya.

A. Pengertian Ragam Hias

Ragam hias merupakan bentuk dasar dari hiasan, yang mana biasanya akan menjadi pola yang diulang-ulang terhadap suatu kerajinan ataupun dalam suatu karya seni. Karya ini sendiri bisa berupa :
  • Tenunan
  • Tulisan (seperti batik)
  • Songket
  • Ukiran
  • Pahatan pada kayu atau batu

Ragam hias juga bisa distilisasi (stilir) sehingga bentuk yang dihasilkan bisa bervariasi atau bermacam-macam.

Variasi dari ragam hias itu sendiri biasanya khas dari suatu unit budaya di era tertentu, sehingga bisa dijadikan sebuah petunjuk untuk sejarawan atau arkeolog.
Ragam hias Nusantara muncul dalam bentuk-bentuk dasar yang sama, namun dengan variasi yang khas dalam setiap daerahnya masing-masing. Di dalam karya kerajinan atau seni Nusantara tradisional, bahkan seringkali terdapat beragam makna spiritual yang dituangkan pada stilisasi ragam hias.

Ada banyak ragam hias asli Nusantara, yang biasanya itu adalah stilisasi dari bentuk alam atau makhluk hidup (termasuk juga manusia) dan ada juga ragam hias adaptasi dari pengaruh budaya luar, seperti dari Tiongkok, India, hingga Persia. [1]
Artikel Serupa : Wajib Baca! 7 Unsur dan Obyek Karya Seni 2 Dimensi Lengkap!

B. Motif Ragam Hias

1. Ragam Hias Flora

Ragam Hias Flora
Ragam Hias Flora, via azzamaviero.com
Flora sebagai salah satu sumber objek motif ragam hias ini bisa dengan mudah dijumpai di hampir seluruh pulau yang ada di Indonesia. Ragam hias dengan motif flora (vegetal) ini dengan mudah bisa ditemukan di barang-barang seni, contohnya :
  • Batik
  • Kain sulam
  • Bordir
  • Kain tenun
  • Ukiran

Rekomendasi Artikel : Baca dan Pahami Pengertian dan Objek Menggambar

2. Ragam Hias Fauna (Animal)

Ragam Hias Fauna
Ragam Hias Fauna, via tekoneko.net

Bentuk motif animal ini juga bisa dibuat dengan berdasar dari berbagai macam jenis binatang, seperti burung, cicak, gajah, ikan, hingga ayam. Di dalam membuat ragam hias, motif hias animal ini sendiri bisa dengan mudah digabung dengan motif hias vegetal atau motif geometrik.

Sebagai salah satu contoh, untuk menggambar ragam hias dengan motif burung bisa dilakukan dengan berbagai langkah berikut ini :
  1. Membuat gambar kontur burung dengan tahapan penggayaan tertentu, sebagai pola gambar ragam hias
  2. Membuat garis-garis atau bentuk motif tambahan (contohnya motif vegetal) yang berguna untuk mengisi pola itu
  3. Selesaikan gambar dengan cara mengisi bidang-bidang dengan menggunakan warna yang menarik perhatian

Motif ragam hias daerah yang terdapat di Indonesia itu banyak yang menggunakan hewan sebagai objek ragam hias. Daerah itu seperti Yogyakarta, Sumatera, Sulawesi, Papua, Kalimantan dan Bali. Untuk motif ragam hias fauna itu juga bisa dengan mudah dijumpai di hasil karya batik, ukiran, sulaman, anyaman, kain bordir, hingga tenun.

Ragam hias fauna bisa dengan mudah dijadikan sebagai salah satu bentuk sarana guna memperkenalkan kearifan lokal daerah tertentu yang ada di Indonesia, seperti burung cendrawasih yang ada di Papua, komodo yang ada di Nusa Tenggara, serta gajah yang ada di Lampung.

3. Ragam Hias Geometris

Ragam Hias Geometris
Ragam Hias Geometris,
Ragam hias geometris ini merupakan motif hias yang dikembangkan dari bentuk-bentuk geometris yang mana selanjutnya digayakan sesuai dengan selera dan imajinasi dari si pembuatnya itu sendiri. Gaya ragam hias geometris bisa dengan mudah dijumpai di seluruh daerah yang ada di Indonesia, contohnya di Jawa, Kalimantan, Papua, Sulawesi dan Sumatera.

Ragam hias geometris bisa dibuat dengan cara menggabungkan bentuk-bentuk geometris ke dalam 1 motif ragam hias.

4. Ragam Hias Figuratif

Ragam Hias Figuratif
Ragam Hias Figuratif, via brainly.co.id
Bentuk dari ragam hias figuratif ini berupa obyek manusia yang digambar dengan menggunakan penggayaan bentuk. Ragam hias figuratif juga biasanya ada di bahan tekstil ataupun pada bahan kayu, yang mana proses pembuatannya bisa dilakukan dengan cara menggambar.

Untuk ragam hias figuratif ini banyak dan bisa dijumpai di daerah timur, contohnya di Papua.

C. Pola Ragam Hias

Pada umumnya, bentuk ragam hias itu mempunyai atau memiliki pola alias susunan yang diulang-ulang. Ragam hias ini sendiri bisa berbentuk pola simetris ataupun asimetris.

Pola simetris adalah apabila pola ragam hias mempunyai bentuk motif yang sama serta diletakkan seimbang antara sisi yang kiri dan sisi kanan. pola asimetris adalah motif ragam hias yang tak diletakkan di tengah atau motif yang tak diletakkan sama antara sebelah kanan dan kiri, namun masih mempunyai keindahan dari komposisinya.

Pola ragam hias geometris ini sendiri bisa dengan mudah dilihat dari bentuknya, contohnya pada segitiga, segiempat, garis silang, lingkaran, hingga zigzag.

Pola ragam hias merupakan suatu bentuk hasil susunan dari suatu aturan tertentu dalam bentuk atapun komposisi tertentu. Penempatan dari pola ragam hias itu sendiri juga bergantung dari tujuannya masing-masing.

Beberapa bentuk pola ragam hias itu juga bisa berupa pola ragam hias tepi, memojok, memusat, bidang yang beraturan, komposisi dan pengulangan.
Lanjut Baca
      edit